Jakarta, CNN Indonesia

Beberapa waktu terakhir heboh kemunculan satwa endemik yang dilindungi, orang utan, di Bandara Sampit, Kalimantan Tengah.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) pun turun tangan untuk mengobservasi dan melakukan pengawasan bersama aparat terkait ke lokasi tersebut.

Kepala BKSDA Resort Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Muriansyah, mengatakan setelah mereka melakukan observasi, orang utan itu diketahui sudah keluar dari kawasan Bandara Haji Asan Sampit.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Hasil observasi kami, sementara ini bisa dipastikan orang utan telah keluar kawasan bandara. Tetapi tidak menutup kemungkinan bisa kembali,” kata Muriansyah di Sampit, Rabu (24/4).

Dia menerangkan pihaknya kali pertama mendapat laporan kemunculan orang utan di kawasan bandara itu pada 18 April 2024. Kala itu, staf BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit melapor ke BKSDA ada satu satwa orang utan yang cukup besar di bekas area peralatan meteorologi belakang kantor lama.

Hari itu juga pihaknya terjun ke lokasi untuk melakukan observasi. Namun kala itu orang utan tidak dapat ditemukan.

Keesokan harinya, pada 19 April 2024, observasi kedua dilakukan BKSDA. Pada hari itu, orang utan kembali terlihat di antara pepohonan samping kantor lama BMKG.

Dia mengatakan, stawa tersebut diduga berasal dari kawasan hutan yang berada di seberang landasan pacu Bandara Haji Asan Sampit.

Satwa tersebut memasuki kawasan bandara tepatnya area samping kantor BMKG lama yang masih banyak pepohonan untuk mencari makan. Sebab, kata dia, beberapa ratus meter dari lokasi tersebut terdapat pohon buah milik warga.

“Jumat siang itu orang utan sempat terlihat, berjenis kelamin jantan dengan ukuran yang cukup besar. Saat itu rencananya kami akan melakukan rescue atau penyelamatan dengan meminta bantuan tim WRU dari SKW II Pangkalan Bun,” ucap Muriansyah.

Upaya rescue orang utan

Ketika mendapat laporan dari BKSDA Resort Sampit, kata Muriansyah, sebenarnya tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA SKW II Pangkalan Bun telah bersiap meluncur untuk melakukan evakuasi orang utan di Bandara Sampit.

Namun, pihaknya saat itu mendapat laporan dari petugas pengamanan bandara bahwa satwa tersebut telah kembali ke hutan asalnya di seberang landasan pacu.

Akhirnya, upaya penyelamatan (rescue) orang utan pun dibatalkan, karena hutan yang dimasuki satwa tersebut cukup luas mencapai ratusan hektare. Sejak itu pula makhluk primata tersebut tak lagi muncul.

Kendati begitu BKSDA Resort Sampit dibantu petugas pengamanan bandara tetap melakukan pengawasan apabila sewaktu-waktu satwa yang dilindungi undang-undang tersebut kembali masuk di kawasan bandara. Pasalnya, di samping berbahaya bagi satwa itu sendiri, juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan di bandara.

“Kami terus melakukan pemantauan, karena BKSDA juga punya pos di bandara. Kalau nanti orang utan itu kembali terpantau di sekitar bandara, maka segera kami lakukan tindakan rescue,” ucap Muriansyah.

Pihaknya menduga habitat yang semakin berkurang dan insting mencari makanan mendorong satwa liar seperti orang utan sampai masuk ke area permukiman. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau warga apabila melihat kemunculan orang utan segera melapor ke pihaknya atau aparat terdekat.

Warga diminta untuk tidak melakukan upaya penangkapan atau menyakiti satwa liar yang ditemui tersebut, karena berpotensi melukai diri sendiri dan melanggar hukum.

Muriansyah menerangkan sejauh yang tercatat, kemunculan orang utan di bandara Sampit itu baru kali ini terjadi. Sebelumnya sempat dilaporkan kemunculan orang utan di sekitar lokasi tersebut, namun tidak sampai masuk kawasan bandara.

(Antara/kid)






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *